Gubernur NTB: Desa Berdaya Tematik Perkuat Ekonomi dan Tekan Kemiskinan
![]() |
| Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal |
Mataram, KB.- Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, menegaskan bahwa pengentasan kemiskinan tidak bisa dilakukan melalui program yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan harus dibangun melalui kolaborasi, sinkronisasi data, dan orkestrasi pembangunan yang terintegrasi hingga ke tingkat desa.
Penegasan tersebut disampaikan Gubernur saat
membuka Rapat Koordinasi Desa Berdaya Tematik 2026 di Aula Hotel Grand Madani,
Mataram, Senin (25/5).
Rapat koordinasi yang mengusung tema “Desa
Berdaya untuk Pengentasan Kemiskinan melalui Ketahanan Pangan, Kelestarian
Hutan, dan Pariwisata Kelas Dunia” tersebut menjadi bagian dari langkah
Pemerintah Provinsi NTB memperkuat pembangunan desa sebagai fondasi utama
pertumbuhan ekonomi daerah.
Dalam arahannya, Gubernur menekankan bahwa desa
tidak boleh lagi dipandang sekadar sebagai objek pembangunan, tetapi harus
menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu menggerakkan masyarakat
secara mandiri dan berkelanjutan.
“Saya percaya upaya membangun bangsa harus
dimulai dari titik paling bawah, yaitu desa. Kalau desa maju, maka daerah dan
negara juga akan maju,” ujar Gubernur.
Menurutnya, selama ini banyak program bantuan
pemerintah, NGO internasional, hingga sektor swasta yang masuk ke desa, namun
belum memberikan dampak signifikan terhadap penurunan kemiskinan karena
berjalan tanpa koordinasi dan arah pembangunan yang terintegrasi.
“Selama ini program masuk sendiri-sendiri, tidak
saling terhubung, tidak ada sinkronisasi data, dan tidak ada yang
mengorkestrasi. Karena itu pemerintah provinsi hadir untuk memastikan semua
program bergerak dalam satu arah,” tegasnya.
Melalui Program Desa Berdaya Tematik, Pemerintah
Provinsi NTB akan melakukan verifikasi dan validasi data kemiskinan, memetakan
persoalan spesifik di setiap desa, sekaligus menghubungkan berbagai sumber
bantuan dan pendanaan agar lebih tepat sasaran dan berdampak langsung bagi
masyarakat.
Program tersebut juga diarahkan untuk memperkuat
ketahanan pangan, menjaga kelestarian lingkungan, serta mengembangkan potensi
pariwisata desa berbasis kekuatan lokal masing-masing wilayah.
Gubernur menjelaskan, pembangunan desa yang
terarah diyakini akan memberikan efek berganda terhadap pertumbuhan ekonomi
daerah, terutama di tengah tantangan fiskal yang saat ini dihadapi pemerintah
daerah.
Ia mengungkapkan bahwa kapasitas fiskal NTB
mengalami tekanan akibat penurunan transfer pusat dan meningkatnya kebutuhan
belanja daerah. Namun demikian, Pemerintah Provinsi NTB tetap mempertahankan
Program Desa Berdaya Tematik sebagai salah satu prioritas pembangunan.
“Ini bukan sekadar program bantuan. Ini ikhtiar
membangun kekuatan ekonomi masyarakat dari desa agar pertumbuhan daerah lebih
inklusif dan benar-benar dirasakan masyarakat,” katanya.
Menurut Gubernur, tahun ini anggaran Program
Desa Berdaya Tematik yang langsung disalurkan ke desa mencapai sekitar Rp128
miliar. Jika digabung dengan program OPD serta dukungan berbagai pihak lainnya,
total anggaran yang berputar di tingkat desa diperkirakan melebihi Rp500
miliar.
“Tahun ini, melalui Desa Berdaya saja, ada
sekitar Rp128 miliar yang langsung turun ke desa. Kalau digabung dengan program
OPD dan berbagai pihak lainnya, totalnya dipastikan lebih dari Rp500 miliar
yang berputar di desa,” paparnya.
Ia juga mengingatkan para kepala desa dan lurah
agar menjaga kepercayaan tersebut dengan mengelola anggaran secara amanah,
transparan, kreatif, dan berorientasi jangka panjang.
Menurutnya, dana yang diberikan pemerintah harus
mampu menjadi pemantik tumbuhnya aktivitas ekonomi masyarakat, memperkuat
infrastruktur desa, dan membuka peluang usaha baru yang berkelanjutan.
“Dana Rp300 juta mungkin terlihat kecil. Tetapi
kalau diorkestrasi dengan baik, dampaknya bisa jauh lebih besar dan menjadi
pemantik pertumbuhan ekonomi desa,” ujarnya.
Di akhir arahannya, Gubernur meminta seluruh
desa menunjukkan tata kelola yang baik agar desa-desa di NTB semakin dipercaya
dalam mendapatkan dukungan program pembangunan di masa mendatang.
“Tunjukkan bahwa desa-desa di NTB mampu
mengelola program dengan baik, tepat sasaran, dan benar-benar memberi manfaat
bagi masyarakat,” pungkasnya.(KB-02/ADV)

Tidak ada komentar