Pemprov NTB dan Kemensos Perkuat Sinergi Penanganan Masalah Sosial dan Kemiskinan
Jakarta, KB.- Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Kementerian Sosial Republik Indonesia memperkuat sinergi percepatan penanganan kemiskinan dan berbagai persoalan sosial. Dalam pertemuan antara Gubernur NTB H. Lalu Muhamad Iqbal dan Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf di Jakarta, Senin (9/3/2026), Kementerian Sosial bahkan menyatakan antusiasmenya menjadikan NTB sebagai salah satu percontohan nasional penanganan kemiskinan dan masalah sosial secara terpadu.
Gubernur
NTB didampingi Kepala Dinas Kominfotik NTB Ahsanul Khalik dan Kepala Bappeda
NTB Baiq Nelly Yuniarti. Sementara Menteri Sosial yang akrab disapa Gus Men
didampingi Dirjen Rehabilitasi Sosial Supono, Dirjen Pemberdayaan Sosial Mira
Riyati Kurniasih, serta Direktur Pemberdayaan Masyarakat Adrianus Alla.
Dalam
pertemuan tersebut, Menteri Sosial memaparkan berbagai pembenahan mendasar yang
sedang dilakukan Kementerian Sosial, terutama dalam penataan sistem data
bantuan sosial melalui Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Menurut
Gus Men, sistem data bantuan sosial kini diperkuat melalui mekanisme baru di
mana pengelolaan dan validasi data diserahkan kepada Badan Pusat Statistik
(BPS) sebagai wali data nasional. Langkah ini dilakukan agar data penerima bantuan
sosial benar-benar akurat dan tepat sasaran.
“Ini
arahan langsung Bapak Presiden agar data bantuan sosial benar-benar valid.
Jangan sampai masyarakat yang berhak justru tidak menerima bantuan,” ujar Gus
Men.
Selain
pembenahan data sosial, Menteri Sosial juga menjelaskan program Sekolah Rakyat,
yang menjadi salah satu program prioritas nasional Presiden Prabowo Subianto
dalam upaya memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
Sekolah
Rakyat dirancang sebagai lembaga pendidikan berasrama yang secara khusus diperuntukkan
bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem, terutama yang berasal dari Desil 1
dalam basis data sosial nasional. Proses seleksi dilakukan secara ketat
berbasis data kemiskinan yang telah tervalidasi. Seluruh kebutuhan siswa mulai
dari pendidikan, asrama, pakaian, makan hingga layanan kesehatan sepenuhnya
ditanggung oleh negara. Selain pendidikan formal, para siswa juga dibekali
pembinaan karakter dan keterampilan agar siap melanjutkan pendidikan tinggi
maupun memasuki dunia kerja. Bagi siswa berprestasi, pemerintah akan menyiapkan
jalur beasiswa untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi terbaik.
Dalam
kesempatan yang sama, Gus Men juga menyampaikan program pembangunan Kampung
Nelayan, yang telah mulai dilaksanakan di Kabupaten Indramayu bagi sekitar 100
kepala keluarga nelayan.
Menanggapi
paparan tersebut, Gubernur NTB H. Lalu Muhamad Iqbal menjelaskan bahwa
kunjungannya selain untuk bersilaturahmi juga untuk mengundang Menteri Sosial
menghadiri Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Provinsi NTB Tahun
2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 6 April 2026.
Dalam
pertemuan tersebut, Gubernur yang akrab disapa Miq Iqbal juga memaparkan tiga
prioritas utama pembangunan NTB, yaitu pengentasan kemiskinan, penguatan
ketahanan pangan, dan pengembangan sektor pariwisata.
Menurutnya,
pengentasan kemiskinan terutama kemiskinan ekstrem menjadi perhatian utama
karena NTB masih termasuk dalam 12 provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi
di Indonesia.
“Saat
ini NTB masih memiliki sekitar 106 desa dengan kategori kemiskinan ekstrem,
dengan jumlah hampir 114 ribu kepala keluarga yang masuk kategori miskin
ekstrem,” jelas Miq Iqbal.
Untuk
mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Provinsi NTB menjalankan program Desa
Berdaya yang difokuskan pada desa-desa dengan tingkat kemiskinan ekstrem.
Melalui
program ini, setiap tahun sekitar 40 desa mendapatkan pendampingan khusus untuk
memastikan program penanganan kemiskinan berjalan secara terarah dan berbasis
data yang akurat. Pendamping melakukan verifikasi dan validasi kondisi sosial
ekonomi masyarakat sehingga intervensi yang diberikan benar-benar tepat
sasaran.
Miq
Iqbal menjelaskan bahwa pendekatan pengentasan kemiskinan di NTB dilakukan
melalui orkestrasi berbagai sumber daya pembangunan, mulai dari pemerintah
pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, pemerintah desa,
perguruan tinggi, hingga sektor swasta melalui program CSR.
Intervensi
dalam program Desa Berdaya dilakukan pada dua level, yaitu level keluarga dan
level desa.
Pada
level keluarga, setiap kepala keluarga miskin ekstrem mendapatkan dukungan
sekitar Rp 7 juta untuk mengembangkan usaha produktif sebagai sumber
penghidupan, seperti peternakan ayam petelur, budidaya sayuran, atau
pengembangan greenhouse yang dapat menjadi pemasok kebutuhan pangan bagi program
makan bergizi gratis.
Sementara
pada level desa, dialokasikan sekitar Rp 500 juta untuk mengatasi hambatan
struktural yang selama ini menghambat masyarakat keluar dari kemiskinan,
seperti pembangunan jalan tani, perbaikan rumah tidak layak huni, maupun
penyediaan infrastruktur dasar lainnya.
Dalam
pertemuan tersebut, Gubernur NTB juga menyampaikan harapan agar masyarakat yang
sedang mendapatkan intervensi program pemberdayaan tidak langsung dikeluarkan
dari program bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH).
“Idealnya
mereka tetap mendapatkan bantuan sosial setidaknya selama satu tahun masa
intervensi, agar memiliki waktu untuk benar-benar mandiri secara ekonomi
sebelum keluar dari kelompok miskin,” ujar Miq Iqbal.
Selain
itu, Pemerintah Provinsi NTB juga mendorong penguatan Pusat Kesejahteraan
Sosial (Puskesos) di desa sebagai tempat layanan pengaduan sosial masyarakat
yang terintegrasi dengan sistem layanan pemerintah.
Menanggapi
paparan tersebut, Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyambut baik pendekatan
pembangunan yang dilakukan Pemerintah Provinsi NTB. Ia bahkan menyatakan
komitmennya untuk hadir dalam Musrenbang Provinsi NTB Tahun 2026.
Pada
kesempatan tersebut, Kementerian Sosial juga akan melaksanakan bhakti sosial
operasi katarak bagi 500 warga NTB, dengan alokasi sekitar 350 pasien di Pulau
Lombok dan 150 pasien di Pulau Sumbawa.
Selain
itu, Kemensos juga menyatakan kesiapan membantu pembangunan dua lokasi Kampung
Nelayan di NTB. Setiap lokasi akan dibangun di atas lahan sekitar 1 hektare,
dengan konsep permukiman nelayan terpadu yang terdiri dari sekitar 100 unit
rumah lengkap dengan fasilitas sosial, tempat ibadah, serta ruang bermain anak.
Program
ini akan melibatkan berbagai pihak, termasuk Baznas dan dukungan CSR sektor
swasta, sehingga masyarakat nelayan yang selama ini rentan terdampak banjir rob
maupun abrasi dapat direlokasi ke permukiman yang lebih layak dan aman.
“Untuk
NTB saya sangat antusias. Saya ingin NTB menjadi percontohan dalam penanganan
kemiskinan dan masalah sosial secara terpadu,” ujar Gus Men.
Menanggapi
hal tersebut, Gubernur Miq Iqbal menyatakan kesiapan penuh Pemerintah Provinsi
NTB untuk bersinergi dengan Kementerian Sosial dalam menjalankan berbagai
program penanganan kemiskinan dan perlindungan sosial.
“Apapun
program Kementerian Sosial yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan
masyarakat, NTB siap menjadi bagian dari solusi,” pungkasnya.
Pertemuan
ini menandai penguatan kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam
mempercepat penanganan kemiskinan ekstrem serta membangun sistem perlindungan
sosial yang lebih terintegrasi di Nusa Tenggara Barat. (KB-01/ADV).
.jpg)
Tidak ada komentar