‘Skandal’ Arena Pacuan Sambinae, ‘Meteran Ajaib’ Membunuh Marwah Pacuan Kuda
KOTA BIMA, KB.- Di bawah terik matahari saat pengukuran kuda di Arena Sambinae, debu-debu pasir terbang diterpa angin, menyelimuti deretan kuda pacu yang gagah berani. Suasana yang seharusnya menjadi panggung pesta rakyat dan kebanggaan para pemilik kuda, mendadak pekat oleh aroma kekecewaan. Di balik gumpalan otot dan napas kuda yang terengah-engah, ada hati para pemilik yang remuk, bukan karena kekalahan di garis finish, melainkan oleh vonis sebilah meteran milik panitia, sebelum kuda dipacu dari garis star.
“Bagaimana mungkin kuda yang dirawat
seperti anak sendiri, dilatih bertumpuk peluh, tiba-tiba ‘dilempar’ ke kelas
yang tidak masuk akal?” cetus seorang pemilik kuda dengan raut wajah bergetar
menahan amarah.
Leluasa dan janggal. Begitulah
banyak pemilik menilai proses pengukuran kelas kuda oleh panitia pacuan kali
ini. Keputusan di atas kertas itu seketika mengacak-acak jerih payah para
pemilik. Contohnya, Kuda-kuda yang tadinya berlaga di Kelas A, mendadak dipaksa
melompat naik ke Kelas B. Yang dari Kelas B, dipaksa bertarung di Kelas C melawan
kuda dengan spesifikasi fisik yang jauh di luar jangkauan mereka. Ini bukan
sekadar pergantian kelas, ini adalah dorongan halus menuju kekalahan yang
dipaksakan.
Yang lebih menyayat hati dan
memancing tanda tanya besar adalah ketidakkonsistenan yang nyata. Jika sebagian
kuda dipaksa loncat kelas ke atas, ada beberapa kuda lain yang justru mendadak
"dikecilkan" dan turun kelas.
Tengok saja nasib The Legend.
Sang juara Kelas E pada gelaran pacuan di Dompu itu, secara ajaib divonis turun
ke Kelas D oleh panitia Sambinae, begitu juga dengan kuda yang diberi nama
Putri Sila. Sebuah fakta yang tidak hanya mencederai logika olahraga, tetapi
juga melukai nilai sportifitas. Bagaimana bisa seekor raja di kelas atas turun
takhta dan merampas panggung kelas di bawahnya?
Lantas, standar apa yang sebenarnya
dipakai? Apakah alat ukur yang keliru, ataukah ada tenggang mata di balik bilik
pengukuran?
Bagi para pemilik, kuda pacu bukan
sekadar hewan aduan atau ‘ladang judi’. Mereka adalah harga diri, investasi
emosional, dan pertaruhan nama baik. Biaya pakan, pemeliharaan, hingga porsi
latihan ketat yang menyita waktu serta materi, seolah menguap begitu saja hanya
karena keputusan sepihak yang dinilai timpang.
Sebagai bentuk perlawanan atas
ketidakadilan ini, nada boikot bergema. Sejumlah pemilik kuda memilih menarik
diri dari arena. Mereka rela tak memacu kudanya di garis start,
ketimbang harus membiarkan ternak kesayangan mereka menjadi korban dari sistem
pengukuran yang dianggap janggal. Arena Sambinae mungkin tetap bising oleh
sorak penonton, tetapi di sudut-sudut pedok, keputusasaan dan rasa dikhianati
menari-nari dengan liar.
Jika ajang kebanggaan daerah ini
terus dibiarkan digerogoti oleh ketidakjelasan aturan dan dugaan permainan,
maka yang mati bukan cuma semangat para pemilik kuda, melainkan marwah pacuan
kuda itu sendiri.
Hingga berita ini diturunkan, Panitia
belum berhasil dikonfirmasi. (*)
Tidak ada komentar