SDN 19 Kota Bima Kembali Bermasalah, Kali ini Soal Dana BOS
Kota Bima, KB.- SDN
19 Kota Bima kini Kembali menjadi sorotan Publik. Sebelumnya SDN 19 Kota Bima
Dihebohkan Soal Delapan (8) Orang yang tidak bisa
mengikuti TKA, lantaran data-data siswa tersebut belum terkover dalam Dapodik. DPRD
Kota Bima Pun turun tangan menyelesaikan masalah tersebut. DPRD
Kota Bima Pun turun tangan menyelesaikan masalah tersebut.
Baru selesai dengan masalah Dapodik, Kini SDN 19 Kembali menjadi
Sorotan, lantaran Kepala Sekolahnya tidak transparan dalam pengelolaan dana
BOS. Sejumlah guru keberatan dengan sikap arogansi yang ditunjukan kepala
sekolah baru tersebut, dalam pengelolaan dana BOS.
“Kami Kira dengan masuknya Kepala sekolah yang baru akan
membawa perubahan baik untuk sekolah kami, ternyata malah menimbulkan masalah.
Guru-guru kecewa dengan sikap kepala sekolah yang tidak transparan dalam pengelolaan
dana BOS,” ujar salah satu guru yang meminta Namanya tidak dosebutkan dalam
berita.
Lebih lanjut guru ini menjelaskan, bahwa guru-guru sedang
bermusyawarah untuk memutuskan Langkah apa yang akan mereka ambil untuk
menghadapi sikap semena-mena itu. Bagaimana tidak, hak-hak guru tidak diberikan
secara utuh atau “ditelep” oleh kepala sekolah.
“Hak kami sebagai guru tidak diberikan oleh kepala sekolah.
Sebelumnya setiap cair Dana BOS kami mendapatkan tunjangan sebesar 600-700 ribu
rupiah. Tetapi setelah kepala sekolah yang baru ini, kami hanya diberikan 100
ribu per tri wulan. Itupun masih ada Sebagian yang belum terima,” bebernya.
Para guru juga tidak diperbolehkan protes atau mempertanyakan
soal penggunaan dana BOS sebanyak 147 juta rupiah. Kepala sekolah langsung mengancam akan melaporkan ke
Dinas jika ada guru yang keberatan dengan keputusan yang diambil kepala sekolah
tersebut.
| Hj. Suryati, S.Pd |
Kepala SDN 19 Kota Bima, Hj. Suryati yang dikonfirmasi wartawan
kabarbima.net via handphone Sabtu (27/6) langsung emosi Ketika mengatahui
wartawan yang menghubunginya. Dirinya langsung menanyakan dari mana wartawan mendapatkan
nomor teleponnya, dan untuk apa wartawan menanyakan soal Dana BOS.
“Kamu dapat nomor saya dari mana? Kamu orang Mana? Dan apa
urusan wartawan soal dana BOS? Siapa guru yang melapor itu, kasih tau saya,”
ujanya dengan nada tinggi.
Padahal Wartawan baru memperkenalkan diri dan tujuan untuk
konfirmasi soal pengelolaan dana BOS di Sekolah yang dia pimpin, tetapi
emosinya langsung tidak terkontrol setelah mengetaui wartawan mau wawancara
soal Dana BOS.
“Apa Urusannya sama wartawan, wartawan tidak perlu tahu,
Siapa guru yang menyampaikan informasi itu kasih tau saya. Kalau mau tanya soal
Dana Bos, Silahkan tanyakan langsung ke Dinas,” tuturnya seraya menyarankan
wartawan untuk menanyakan hal itu juga kepada bebarapa wartawan yang dia kenal
sembari menyebutkan nama media dan wartawan, tentu saja dengan nada bicaranya
yang masih tinggi.
Meski nada bicaranya masih tinggi wartawan masih berusaha
mengorek informasi darinya dengan bertanya tentang penggunaan dana BOS. Hj. Suryati Akhirnya menjelaskan meski dengan
nada bicara yang masih tinggi, ia menjelaskan bahwa dana Bos digunakan untuk
Prasarana dan peningkatan mutu.
“Dana Bos Digunakan Hanya untuk Prasarana dan peningkaatan mutu,
tidak digunakan untuk bayar guru Honorer dan sukarela. Mereka akan dibayar Ketika
mereka ada kegiatan saja, kalau mereka tidak ada kegiatan yang mereka usulkan
tidak dibayarkan. Kalau mereka keberatam silahkan protes ke Dinas, karena itu
sesuai dengan RKA,” jelasnya.
Ketika ditanya, selain Digunakan untuk sarana prasarana dan
peningkatan mutu, apakah ada digunakan hal lain. Dirinya mengaku Sebagian besar
dana bos dia gunakan untuk membeli buku sekitar 40 lebih juta rupiah. “Sudah
dipakai beli buku sebanyak 40 lebih juta rupiah. Kalau mau tanya yang lain silahkan
langsung tanya ke walikota,” ujarnya dengan nada tinggi dan langsung mematikan
telepon.
Menurut para guru di SDN 19, Kepala sekolah ini sering
menyebut dirinya dekat dengan walikota, sehingga kalau ada guru-guru yang protes
soal kebijakannya dia suka mengancam akan lapor ke dinas dan walikota. (KB-03)

Tidak ada komentar